
Terlintas di pikiran saya bahwa kehidupan kita ini seperti sebuah pohon yang melalui 4 musim.
Musim semi,
Musim Panas,
Musim Gugur, dan
Musim Dingin...
Sepanjang tahun 4 musim ini selalu hadir (di negara tertentu sih tepatnya) dan tidak pernah absen, dan jangka waktunya pun stabil, yaitu setiap musim, kurang lebih berlangsung selama 3 bulan...
Kalau dipikir-pikir, dilihat dari keadaan fisik dan alam yang terjadi, kehidupan kita juga bisa diibaratkan seperti pohon pada 4 musim ini lho, namun durasi berlangsungnya musim-musim ini tidak tergantung dari lingkungan maupun alam di sekitar kita, namun sebaliknya, berasal dari dalam diri kita sendiri....
Pada saat kehidupan kita dihadapkan pada kegembiraan, kebahagiaan, dan kesuksesan, di sini jugalah kehidupan kita mengalami "musim semi". kita merasa sepertinya dunia ini indah, seakan kebahagiaan yang kita rasakan tidaklah sebanding dengan penderitan yang kita alami. Seperti pohon, ranting-ranting kita sedang ditumbuhi penuh oleh bunga-bunga indah yang bermekaran. Perasaan kita juga demikian berbunga-bunga dan senyuman tidak pernah absen di wajah kita. Misalnya saja, kelulusan, pernikahan, kelahiran anak, peringatan hari ulang tahun, dan peristiwa-peristiwa bahagia lainnya.
Pada saat kita dihadapkan dengan berbagai tugas, tekanan dan kesibukan di sinilah kehidupan kita memasuki musim panas. Meskipun pada kenyataannya, musim panas itu biasanya diasosiasikan dengan liburan, tapi jika dilihat, keadaan "panas", kita seperti pohon yang sedang "dibakar" oleh sinar matahari yang begitu terik. Matahari itu merupakan cerminan dari semangat, ambisi, niat, dan tekad kita. Maka dari itu saya mengibaratkan musim panas seperti kehidupan sehari-hari kita yang penuh dengan kesibukan. Kita dikejar-kejar target, dan kita berupaya pula untuk mewujudkan impian kita atau target kita itu.
Namun, saat target tidak tercapai, keinginan tidak terpenuhi, ditolak oleh orang-orang di sekitar kita, dan gagal dalam melakukan sesuatu, kita merasa kecewa, patah semangat dan seolah tidak ada harapan. Pada saat inilah kehidupan kita sedang mengalami "musim gugur". Kali ini bunga dan daun yang ada diranting-ranting mulai kering dan berguguran. Seperti kita saat merasa gagal, tidak dicintai, disingkirkan, dan ini semua serasa membuat hidup kita suram. Tidak jarang kita jadi patah semangat dan takut untuk mencoba kembali.
Lalu hadirlah "musim dingin". Musim dingin ini adalah saat kita merefleksikan diri kita yang sudah seperti pohon tanpa daun (ingat bahwa ada beberapa spesies yang menjalani hibernasi pada musim dingin?!?!) Sama seperti kita. Kita memikirkan kebaikan dan keburukan yang ada pada diri kita dan kita juga mempertimbangkan usaha-usaha apa yang kita lakukan yang membawa kita pada keberhasilan dan juga usaha-usaha mana yang tidak membawa keberhasilan. Di musim dingin ini juga peranan keluarga, teman-teman, dan semua orang yang dikasihi berperan penting. Karena dalam merefleksikan diri, kita tidak bisa hanya sendiri saja. Kita butuh masukan dan dorongan dari orang-orang di sekitar kita (ini seperti musim dingin yang biasa diasosiasikan sebagai "waktu kumpul-kumpul" keluarga saat natal, meskipun hal ini hanya terjadi di belajan dunia bagian utara). Gambaran kebersamaan dan perasaan didukung, dikasihi, dan dicintai inilah yang bisa membuat kita bangkit dari keterpurukan.
Lalu, setelah semua es meleleh (tahap refleksi diri hampir selesai dan dukungan orang sekitar mulai berkurang karena mereka menganggap kita sudah dapat berdiri lagi), kita bisa melihat kehidupan baru muncul dari balik-balik es yang tersisa. Kita melihat lagi rumput hijau dan bunga-bunga mulai bermekaran. Di sinilah kehidupan kita kembali memasuki "musim semi".
Keempat musim ini perlu kita alami karena setiap musim bisa memberikan pelajaran yang sangat berharga. Dan karenanya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Namun terkadang, kita semua (tidak terkecuali saya sendiri) sering kali kurang peka. Tidak jarang saya mengeluh, menyesal, dan sedih. Kita sering tidak sadar bahwa segala kesulitan dalam hidup pasti dapat kita lalui. Berkat bantuan dari orang-orang yang kita kasihi yang senantiasa mendukung kita, kita tidak perlu merasa sendirian. Dan lebih dari itu, Tuhan selalu menyertai kita dalam segala hal, jadi dalam segala "musim" yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya Dia tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat kita merasa bahwa kita sendirian.
Tetap SEMANGAT!!!! ^^v

0 comments:
Post a Comment